Suku bunga acuan tidak selalu soal mahal atau murahnya pinjaman. Di tengah tekanan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global, keputusan Bank Indonesia untuk menahan BI Rate juga menjadi cara menjaga agar Rupiah tidak semakin tertekan.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Agustus 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa stabilitas nilai tukar masih menjadi salah satu prioritas utama kebijakan moneter.
Secara sederhana, penurunan suku bunga memang dapat mendorong konsumsi dan investasi karena biaya pinjaman menjadi lebih murah. Namun, ketika Rupiah sedang menghadapi tekanan eksternal, penurunan suku bunga terlalu cepat dapat membuat aset dalam Rupiah menjadi relatif kurang menarik bagi investor.
Situasinya semakin kompleks karena dolar AS masih menjadi mata uang utama yang dicari investor ketika ketidakpastian global meningkat. Pada 27 Agustus, Rupiah bahkan kembali melemah 0,28% ke level sekitar Rp17.775 per dolar AS pada pembukaan perdagangan.
Karena itu, mempertahankan BI Rate di 5,75% memberi ruang bagi BI untuk tetap menjaga daya tarik aset keuangan domestik sembari menggunakan instrumen lain untuk memperkuat stabilitas Rupiah.
Menahan BI Rate bukan berarti BI hanya “diam”. Bank Indonesia juga memperkuat berbagai instrumen stabilisasi, termasuk kebijakan di pasar valuta asing dan insentif lindung nilai.
BI mencatat Rupiah berada di sekitar Rp17.855 per dolar AS pada 18 Agustus, menguat 0,78% dibandingkan akhir Juli. BI juga meningkatkan insentif untuk transaksi swap jual lindung nilai dan DNDF guna memperkuat stabilitas pasar valas serta mendorong arus modal masuk.
Artinya, strategi BI saat ini bukan sekadar menaikkan atau menurunkan bunga. Ada kombinasi kebijakan yang digunakan untuk menjaga Rupiah sekaligus tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.
Bagi masyarakat, BI Rate yang bertahan di 5,75% berarti ekspektasi penurunan bunga kredit tidak terjadi secepat yang mungkin diharapkan. Pinjaman konsumtif maupun pembiayaan usaha masih perlu diperhitungkan dengan hati-hati.
Namun, stabilitas Rupiah juga memiliki manfaat. Rupiah yang lebih terkendali membantu menekan risiko kenaikan harga barang yang bergantung pada bahan baku atau produk impor.
Bagi bisnis, terutama yang memiliki transaksi dalam dolar AS, kestabilan kurs menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan. Pelemahan Rupiah dapat meningkatkan biaya impor, sementara perusahaan yang memiliki utang atau kewajiban dalam valuta asing juga menghadapi risiko tambahan.
Di sisi lain, kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% secara tahunan, menunjukkan bahwa aktivitas pembiayaan masih bergerak meskipun suku bunga acuan dipertahankan.
Ruang untuk penurunan BI Rate tetap bergantung pada perkembangan Rupiah, inflasi, arus modal, serta kondisi ekonomi global.
Untuk saat ini, BI masih menargetkan inflasi berada pada kisaran 2,5% ± 1% pada 2026 dan 2027. Stabilitas nilai tukar juga menjadi perhatian karena pelemahan Rupiah dapat meningkatkan tekanan imported inflation.
Dengan kata lain, selama tekanan terhadap Rupiah masih perlu diwaspadai, BI memiliki alasan untuk tidak terburu-buru memangkas suku bunga.
BI Rate mungkin hanya terlihat sebagai angka 5,75%, tetapi dampaknya bisa sampai ke bunga pinjaman, biaya impor, harga barang, investasi, hingga keputusan bisnis.
Karena itu, memahami arah kebijakan suku bunga bukan hanya penting bagi investor. Bagi pelaku usaha dan masyarakat, membaca arah BI juga bisa menjadi bagian dari strategi mengelola keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global.