Indonesia sedang memasuki babak baru dalam perkembangan ekonomi digital. Investasi data center terus berdatangan, terutama karena meningkatnya kebutuhan cloud computing dan kecerdasan artifisial (AI). Hingga paruh pertama 2026, kapasitas data center yang telah beroperasi di Indonesia mencapai sekitar 580 megawatt (MW). Sementara itu, minat investasi baru mencapai sekitar 1,3 gigawatt (GW), dengan nilai investasi diperkirakan mencapai US$15–20 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia semakin menarik bagi industri teknologi global. Namun, ada persoalan yang sering luput dari perhatian: data center membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar dan harus tersedia secara stabil selama 24 jam. Jika investasi terus bertambah, dari mana listrik tersebut akan berasal dan siapa yang pada akhirnya menanggung biaya pembangunan infrastrukturnya?
Ledakan Data Center Berarti Ledakan Kebutuhan Listrik
Data center bukan sekadar gedung yang menyimpan server. Di dalamnya terdapat ribuan perangkat komputasi yang bekerja tanpa henti untuk menjalankan layanan cloud, aplikasi digital, platform e-commerce, layanan finansial, hingga sistem AI. Semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula kebutuhan energi yang harus disediakan.
Pada akhir Agustus 2026, sebuah laporan mengenai industri data center di Indonesia memperkirakan ekspansi ke depan membutuhkan tambahan kapasitas listrik sekitar 2.000 MW. Sebagai gambaran, angka tersebut disebut setara dengan kapasitas sebuah pembangkit listrik yang dapat memasok kebutuhan setidaknya satu kabupaten. Kebutuhan ini menjadi tantangan karena data center bukan satu-satunya sektor yang membutuhkan tambahan energi; Indonesia juga sedang mendorong hilirisasi industri dan berbagai aktivitas ekonomi yang membutuhkan pasokan listrik besar.
Kebutuhan tersebut semakin terlihat dari proyek-proyek AI yang diumumkan sepanjang 2026. Empat pemain, yaitu DayOne, Firmus Technologies, CoreWeave, dan Zankore by Indosat, mengumumkan rencana pengembangan infrastruktur AI di Indonesia dengan kapasitas gabungan sekitar 2.170 MW. Proyek tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan energi industri data center tidak lagi hanya berasal dari penyimpanan data dan layanan cloud, tetapi juga dari komputasi AI berperforma tinggi.
Bukan Hanya Soal Jumlah Listrik
Persoalannya bukan sekadar apakah Indonesia memiliki cukup listrik. Data center membutuhkan listrik yang andal, stabil, dan tersedia sepanjang waktu. Gangguan listrik dapat mengganggu layanan digital yang digunakan oleh perusahaan dan masyarakat, sehingga infrastruktur kelistrikan harus mampu memenuhi standar keandalan yang lebih tinggi.
Moody's bahkan menilai ekspansi data center berbasis AI semakin dibatasi bukan oleh permintaan terhadap komputasi, melainkan oleh ketersediaan daya, infrastruktur transmisi, dan jadwal penyambungan listrik. Artinya, membangun gedung data center saja tidak cukup. Infrastruktur kelistrikan yang menghubungkan fasilitas tersebut dengan sumber energi juga harus siap.
PLN sendiri telah menyatakan kesiapan untuk mendukung pertumbuhan industri data center. Salah satu contohnya adalah pembangunan infrastruktur kelistrikan untuk mendukung data center di Jawa Barat. PLN menekankan bahwa pertumbuhan data center, terutama yang berbasis AI, membutuhkan pasokan listrik bukan hanya dalam jumlah besar tetapi juga stabil dan andal.
Lalu, Siapa yang Membayar?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika investasi data center terus meningkat. Perusahaan teknologi memang mengeluarkan modal untuk membangun fasilitasnya, tetapi pembangunan jaringan listrik, gardu, transmisi, dan infrastruktur pendukung juga membutuhkan investasi yang besar.
Di satu sisi, ekspansi data center dapat memberikan manfaat ekonomi. Investasi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kebutuhan tenaga ahli, memperkuat infrastruktur digital, dan berpotensi menjadikan Indonesia sebagai pusat komputasi regional. Pemerintah bahkan melihat data center sebagai salah satu pilar penting dalam transformasi ekonomi digital Indonesia.
Namun di sisi lain, masyarakat perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi perusahaan teknologi sementara biaya infrastrukturnya ditanggung lebih luas oleh negara dan konsumen. Pertanyaan seperti siapa yang membiayai peningkatan kapasitas listrik, bagaimana tarif listrik ditentukan, dan bagaimana dampaknya terhadap kebutuhan energi sektor lain menjadi semakin relevan ketika konsumsi data center terus meningkat.
Data Center Juga Membutuhkan Air
Listrik bukan satu-satunya sumber daya yang menjadi perhatian. Server yang bekerja dengan intensitas tinggi menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan. Beberapa teknologi pendinginan menggunakan air dalam jumlah signifikan.
Moody's menempatkan kebutuhan air sebagai salah satu tantangan tambahan bagi ekspansi data center Indonesia, bersama dengan listrik, infrastruktur, dan talenta. Artinya, pembangunan pusat data perlu memperhitungkan lebih dari sekadar luas lahan dan koneksi internet. Ketersediaan sumber daya lokal juga menjadi faktor penting dalam menentukan apakah sebuah wilayah benar-benar siap menjadi lokasi data center berskala besar.
Pertumbuhan Digital Harus Dibayar dengan Infrastruktur yang Tepat
Ledakan data center sebenarnya merupakan kabar positif bagi Indonesia. Negara ini memiliki peluang untuk mendapatkan investasi bernilai besar dan membangun posisi sebagai salah satu pusat teknologi di Asia Tenggara. Namun, pertumbuhan tersebut tidak boleh hanya dilihat dari jumlah investasi yang masuk.
Di balik setiap layanan cloud, aplikasi, dan sistem AI terdapat infrastruktur fisik yang membutuhkan listrik, air, jaringan, lahan, dan tenaga manusia. Karena itu, pertanyaan mengenai data center Indonesia seharusnya tidak berhenti pada “berapa besar investasi yang masuk?”, tetapi juga “berapa besar sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankannya dan siapa yang menanggung biayanya?”
Jika Indonesia mampu membangun ekosistem energi dan infrastruktur yang efisien, ekspansi data center dapat menjadi fondasi ekonomi digital jangka panjang. Tetapi jika pertumbuhannya tidak diimbangi perencanaan energi dan sumber daya yang matang, Indonesia mungkin justru menghadapi masalah baru: memiliki infrastruktur digital yang sangat besar, tetapi membutuhkan biaya energi dan sumber daya yang juga semakin besar untuk mempertahankannya.